“TRUE FRIENDS”
Karya Melani Sau
“Aku
pernah bermimpi menjadi seorang sahabat yang setia, dapat melayani sahabat – sahabat’Q dalam kesusahan, dapat menjadi sumber ketenangan,
sumber keceriaan dan sumber kebahagiaan...
Namun itu hanyalah mimpi ”
***********
|
Kala senja
berduka, rintikan air mata kesedihan sang langit menerobos ke bumi perlahan,
membasahi rumput liar yang terlihat kegirangan dengan kesedihan itu.
Aku terus
memperhatikan langit yang menangis tersedu – sedu namun di sambut kegirangan
oleh rumput yang bergoyang. Terkadang sahabat alam yang lainnya pun bergoyang
sejadi – jadinya dengan kesedihan sang langit.
Rasanya aku
ingin membentak semua rumput, pohon bahkan bunga yang sedang bersorak kegirangan
dengan tangis langit, namun angin menahanku. Secercah kata manis dari angin
berdendang di telingaku: “Lihatlah pengorbanan langit kepada sahabat – sahabatnya.
Kelak kamu akan mengerti arti persahabatan itu dari mereka... ”
Sejenak aku
berpikir keras mencerna kalimat itu namun apa daya mampuku menyerap semua itu.
Otak yang terus ku pacu agar segera menemui jawaban dari perkataan angin ternyata tidak mampu. Namun aku tetap
yakin akan mengertinya kelak.
****
Semenjak senja
kelabu itu, aku semakin rutin menatap langit. Kini hobby baruku ini semakin
menyita perhatianku. Aku menyadari bahwa arti persahabatan yang di maksudkan
oleh angin adalah bagaimana langit memberikan kesejukkan bagi sahabat –
sabahatnya. Namun belum dapat ku pahami mengapa langit begitu tulus kepada
sahabat – sahabatnya hingga tidak mempedulikan dirinya sendiri yang tengah di
landa kesedihan dan keterpurukan? Perlahan aku bertanya dalam diam : “Mungkinkah
langit sudah MATI RASA?”
Dalam diam, terus
ku pandangi langit. Mencari jawaban dari padanya.
*****
Hari berganti
hari, bulan berganti bulan, waktu pun terus bergulir dengan lincahnya. Aku
masih di sini. Terdiam membisu menatap langit. Menunggu jawaban. Hingga angin
kembali menyapaku dan menyadarkanku bahwa hari ini adalah hari baru tukku
memulai kehidupanku di masa “PUTIH ABU – ABU”. Hari pertama yang ku harapkan
dapat menjadi awal yang baik tukku mencari arti persahabatan.
Hari – hari
baruku penuh dengan warna – warni dan bukan lagi hitam putih karena disana ku
mulai mengenal teman – teman baru. Aku yang terbiasa dengan kesepian, kesunyian
dan kesendirian kini di hadapkan pada situasi yang 1800 berbeda.
Disana tidak ada
kesepian karena disana penuh dengan keramaian dan kegaduhan. Aku bagaikan
seonggok manusia rapuh yang tersesat di kerumunan manusia – manusia kokoh. Aku
takut dan rasanya ingin terjatuh namun lagi – lagi angin datang dan
meyakinkanku tuk terus maju serta menopangku.
Detik – demi
detik alunan waktu berputar dengan sangat lincah. Hari – hari yang kurasa aneh
kini semakin ku nikmati. Yah, ku nikmati bersama teman – teman di sekitarku.
Kata Bougenvile, meraka lebih tepat disebut sahabat. Rasanya bangga sekalii..
Aku seorang gadis buruk rupa yang begitu rapuh mampu mempunyai sahabat???
Sungguh rasanya awan bersorak bersamaku hingga ia menerbangkanku memeluk langit
yang begitu memahami sukacitaku.
Yah, mereka
sahabat – sahabatku. Aku bersorak kegirangan karena aku tak perlu lagi iri kepada
langit yang mempunyai banyak sahabat karena saat ini aku juga telah mempunyai
sahabat. Sahabat yang menemaniku dalam suka dan duka. Sahabat tempat ku berbagi
cerita tentang kehidupanku yang sepi. Sahabat yang selalu menjadi sumber
motivasiku. Mereka sahabat yang sangat ku sayangi..
*****
Keindahan
persahabatan yang kurasakan sungguh membuatku nyaman hingga aku mulai lupa akan
kesendirian, kesepian dan keterbelakangan. Aku semakin percaya diri tuk maju
bersama sahabat – sahabatku. Meskipun persahabatan yang aku rajut bersama
mereka tak selalu sejalan dan juga terkadang menjengkelkan, saling marah –
marah, cuek, namun itulah bagian dari bumbu – bumbu persahabatan.
Mereka adalah orang – orang terbaik yang pernah hadir dalam hidupku. Mereka yang selalu berada di sampingku, suka
duka kami lalui bersama dan saling menjaga satu sama lain. Dari mereka aku belajar banyak hal terutama
dalam hal kepercayaan.
Dari mereka aku
belajar menjadi seorang pendengar yang baik, menjadi pribadi yang berani tuk tampil dengan segala kesederhanaan
diri, sopan, murah hati, saling mengasihi, dan lain sebagainya..
Aku selalu
merasakan kebahagiaan mendalam saat bersama mereka.
*****
Sore itu dalam
senyuman aku berjalan mengintari taman kecil di sekitar lapangan tempat anak –
anak di kampungku bermain layangan. Langit tersenyum dan bernyanyi ria
bersamaku. Ia mengajakku berlari kecil
menerobos padang ilalang yang dengan gemulainya menyapa kami. Angin yang sedari
tadi menggandeng tanganku berhenti tepat di ujung sebuah bukit. Aku duduk
bersandar pada batu sambil memandangi alam yang begitu indah. Semuanya tampak
menyejukkan. Dalam senyuman, aku bercerita pada langit dan angin:
“Hey, kalian tau
tidak, aku sungguh bahagia. Ternyata dunia ini tidak hanya berwarna hitam dan
putih saja. ”
Angin tersenyum
dan berkata: “Oh yah? Lalu?”
Dalam senyum,
aku melanjutkan:
“Aku bahagia
sekali. Karena warna hitam dan putih itu hanyalah bagian ilusiku saja karena
aku tak pernah tau ternyata ada warna lain selain itu”.
Langit pun
seakan tak mau kalah:
“Iyah Meyzsa.
Dunia itu punya banyak warna. Setiap warnanya punya bermacam arti. Seperti
persahabatan yang kamu rajut saat ini, punya berbagai arti. Ada kalanya kamu
bahagia bersama mereka dan ada kalanya kamu bersedih karena mereka. Semuanya
itu relatif sayang. Keindahan persahabatan itu bukan hanya saat kamu dapat
tersenyum karena mereka tetapi bagaimana kamu mampu menjadi sumber senyuman
untuk mereka. Keindahan persahabatan itu saat kamu rela mengorbankan perasaanmu
tuk terluka demi melihat mereka bangkit darii kesakitan hati mereka. Saat
mereka benar terhibur karena kamu”
Aku terhenyak
dengan jawaban langit yang begitu syahdu.
Aku bertanya
perlahan: “Lantas, itukah alasanmu rela bersedih demi kebahagiaan sahabat –
sahabatmu?”
Dengan seulas
senyum yang tersungging manis, langit menjawab : “Ya. Akhirnya kamu mampu
mengetahui alasannya sayang. Aku akan selalu memberikan apapun yang mereka
butuhkan dan mereka inginkan tanpa mempedulikan perasaanku sendiri karena
hidupku akan terasa sempurna saat aku mampu memberikan kebahagiaan kepada
mereka”.
“Bahkan saat
kamu tidak pernah di perhitungkan dalam kebahagiaan mereka?” Sanggahku tegas.
“Yah. Bahkan aku
rela tidak di perhitungkan dalam kebahagiaan mereka asalkan mereka dapat
berbahagia. Karena itu saja sudah membuat aku merasa bahagia”.
Kalimat
sederhana namun mempunyai makna yang mendalam. Aku tersenyum meski tak ku tau
arti senyumanku. Namun ku pastikan, senyum itu tulus keluar dari dalam hatiku.
Aku menatap
langit penuh bahagia. Terlontar kata indah tak berpuitis dari bibir mungilku :
“Aku ingin menjadi seperti langit yang selalu
memberikan kesejukkan bagi sahabat – sahabatku. Yang aku inginkan adalah
kebahagiaan sahabat – sahabatku. Aku tidak ingin lagi merepotkan mereka dengan
cerita hidupku yang rumit tuk di cerna. Yang aku inginkan adalah kebahagiaan
mereka.
Angin, bantu aku
sampaikan pesan ini tuk sahabat – sahabatku..
Katakanlah bahwa
aku sangat menyayangi mereka. Katakanlah kepadaku apa yang ingin mereka keluhkan.
Katakan saja.
Katakan kepadaku
apa yang mereka butuhkan. Katakanlah.
Karena aku akan
berusaha semampu mungkin tuk memenuhi semua itu demi kebahagiaan mereka.
Katakan juga
kepada mereka harapanku ini bahwasanya aku mohon jangan membawaku dalam kebahagiaan kalian karena aku
hanyalah seoongok manusia rapuh yang barangkali tercipta dari kesedihan dunia.
Hingga pada
akhirnya aku akan terus hilang, hilang, hilang dan semakin menghilang dari
hidup kalian agar di situ aku dapat merasakan arti diriku untuk kalian, sahabat.”
Aku tersenyum
lega. Kini aku merasa begitu berarti.
Aku akan selalu merasa berarti demi sahabat – sahabatku. Walaupun cibiran
manusia durjana lainnya mengikis rasa percaya diriku dan keberartiannya diriku,
namun aku akan selalu berusaha tuk menyatakan kepada semua orang bahwa aku
mampu menjadi gadis yang berarti dan akan selalu berarti demi mereka yang ku
cintai...
Sekian
Teruntuk sahabat
– sahabat’Q Tersayang


Tidak ada komentar:
Posting Komentar